Monday, February 25, 2008

Anak-anak Cuci Mobil

Di depan toko buku yang saya kelola, ada usaha cuci mobil yang dijalankan oleh kakak saya, Stevi. Anak-anak yang bekerja sebagai pencuci mobil ini kebanyakan putus sekolah. Mereka, di usia yang masih muda antara 10 hingga di bawah 20 tahun, sejak pagi sudah bekerja mencari uang dengan jalan mencuci mobil-mobil yang datang untuk menggunakan jasa mereka.
Penghasilan mereka cukup banyak. Bila dihitung per bulan, jumlahnya bisa mencapai satu juta rupiah. Sayang sekali mereka tidak bijaksana menggunakan uang mereka. Setelah mencuci, mereka biasanya membeli kue, rokok dan air atau soft drinks. Kadang-kadang bila mereka tidak bekerja, mereka membeli minuman berakohol yang dijual diam-diam oleh pedagang minuman. Mabuk-mabukkan adalah sebuah relaksasi bagi mereka. Pemerintah kabupaten Manokwari telah memberlakukan sebuah peraturan daerah tentang pelarangan minuman beralkohol. Patut disayangkan bahwa masih ada saja orang yang menjualnya.
Anak-anak muda ini memerlukan perhatian dari siapa saja yang peduli untuk membina mereka. Keluarga saya, dengan segala keterbatasan yang ada pada kami, telah berusaha sedapat mungkin membantu pemberdayaan mereka. Cuci mobil yang kami miliki sudah menyerap tenaga kerja lokal, toko buku yang saya kelola juga sudah menyediakan sebuah ruang baca khusus (a reading corner) yang saya taruh sejumlah buku ilmu pengetahuan yang bisa dibaca gratis oleh siapa saja. Saya juga menyelenggarakan kursus bahasa Inggris gratis yang telah diselenggarakan dari bulan juli hingga november 2007. Awal bulan desember 2007 yang lalu, bekerja sama dengan kawan saya di Yayasan Kaumi, kami menyelenggarakan pelatihan pembuatan barang kerajinan tangan khas Papua bagi muda-mudi di kompleks Missi. Adik saya yang paling bungsu, Ivana juga aktif di kegiatan muda-mudi katolik di kota ini.
Masih banyak kegiatan yang diperlukan untuk memberdayakan orang-orang Papua agar mereka bisa mandiri.
Tapi hanya orang Papua sendiri yang bisa mengubah nasib mereka dari keterpurukan, dari ketertinggalan.
Jalan terbaik untuk melakukan transformasi di tanah Papua adalah lewat pendidikan. by Charles Roring