Monday, February 25, 2008

“Orang Papua Lebih Tertarik Urus Uang Besar”

Teman saya - drh. Harry Fatem - berkata, “Orang Papua tidak terlalu tertarik dengan usaha, mereka Papua lebih tertarik urus uang besar. Mereka tidak sabar kalau harus duduk menunggu gerobak bakso. Kebetulan tadi malam (23 Januari 2008), setelah membeli tinta printer, saya dan kawan saya itu jalan-jalan keliling kota untuk makan bakso. Sesampainya kami di depan sebuah warung bakso yang terletak di Jalan Protokol Kawasan Pasar Sanggeng, ternyata banyak sekali para pembeli yang antri. Kami pun membatalkan niat untuk makan bakso di situ dan akhirnya mencari warung lain yang lebih sepi. Ungkapan kawan saya ini, adalah kritikan seorang intelektual Papua kepada masyarakatnya sendiri. Memang kalau saya lihat dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pedagang makanan, pemilik warung ataupun tukang ojek didominasi oleh masyarakat pendatang. Ada juga pedagang-pedagang kecil yang asli orang Papua. Kebanyakan mereka berjualan hasil bumi dan pinang. Masyarakat asli Papua yang tinggal di pesisir pantai berprofesi sebagai nelayan.
Cari uang di tanah Papua tergolong gampang-gampang susah. Bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan atau usaha sendiri, uang mudah diperoleh. Sedangkan bagi mereka yang baru merantau, akan terasa sulit.
Kembali ke soal semangat kewirausahaan di kalangan masyarakat asli Papua, sependek pengetahuan saya, semangat tersebut sudah mulai nampak. Namun, masih banyak orang yang lebih tertarik menjadi pegawai negeri, dengan harapan, di samping bisa menerima gaji bulanan secara teratur, mereka bisa pula terlibat dalam proyek-proyek pemerintah, baik itu di bidang konstruksi, pengadaan atau berbagai kegiatan yang menghabiskan anggaran dalam jumlah besar.
Di kota-kota Papua, kendaraan beroda empat seperti Avansa, Taruna atau L 200 yang harganya beberapa ratus juta banyak sekali mondar-mandir di depan rumah saya. Ini berarti uang yang dimiliki sejumlah orang Papua maupun pendatang cukup banyak.
Padahal perekonomian yang digerakkan oleh sektor swasta belum berperan penting. Kita mudah mengambil kesimpulan bahwa perekonomian sebagian besar digerakkan oleh sektor pemerintah lewat proyek-proyek konstruksi, pengadaan dan berbagai kegiatan lainnya.
Tidak heran bila setiap kali ada penerimaan atau tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) jumlah pelamar bisa mencapai beberapa ribu hingga puluhan ribu, padahal yang diterima mungkin cuma ratusan pegawai.
Oleh karena itu, masyarakat Papua harus mau memberdayakan diri mereka sendiri dan berani terjun berwirausaha mulai dari nelayan, penjual ikan, pemilik dan karyawan-karyawan sea food restaurant haruslah orang Papua. Dan hal tersebut harus diterapkan di semua bidang perekonomian.
Dengan demikian, menjadi pegawai negeri sipil bukanlah pilihan satu-satunya yang ideal di mata masyarakat Papua.
Pepatah yang berbunyi berdikit-dikit lama-lama menjadi bukit telah banyak diterapkan oleh para wirausahawan kecil. Saudara saya yang dulu hanya telur dengan harga beberapa ratus rupiah per butir, sekarang sudah memiliki rumah megah dan beberapa buah mobil. Semoga suatu hari nanti, jumlah orang Papua yang mau terjun menjadi wirausahawan semakin banyak dan tingkat kesejahteraan mereka semakin baik. penulis-Charles Roring