Seorang pelanggan toko buku saya adalah seorang Papua lulusan Arsitektur dari Universitas Gajah Mada. Tentu saja sebagai sarjana, ia memiliki peluang yang besar dalam meningkatkan karirnya di pemerintahan. Saat ini ia bekerja di pemerintahan. Ia pernah berkata bahwa ia bekerja juga di Waskita Karya, sebuah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. Biasanya proyek-proyek konstruksi yang menelan biaya besar dipegang oleh BUMN. Ia memegang posisi pemasaran untuk wilayah Papua.
Setelah menjadi pegawai negeri, ia bertugas di kawasan distrik Manokwari Selatan (kalau saya tidak salah ingat). Distrik itu tergolong jauh dari kota Manokwari.
Dari urusan bangunan, sekarang ia lebih banyak berurusan dengan birokrasi dan masyarakatnya. Hal ini tidak membuat dia patah semangat.
Dari percakapan-percakapan dengan dia, ia mengemukakan keinginannya untuk membeli film-film rohani. Menurut dia, orang kampung tidak suka pelayanan yang banyak bicara. Mereka lebih mau lihat presentasi dengan multi media. Bisa dibayangkan besarnya biaya dan peralatan yang diperlukan. Kalau hal tersebut dilaksanakan berarti sipenginjil memerlukan laptop, in focus dan layar. Kalau di suatu kampung tidak ada listrik maka genset harus pula disediakan.
Tapi penginjilan dengan menggunakan teknologi seperti itu bukanlah hal yang baru di tanah Papua. Para misionaris Belanda, Amerika dan Australia menggunakan pesawat terbang, film dan slide ketika mereka melakukan karya penginjilan di tanah Papua. Dunia semakin canggih.
Ia kemudian memberikan sebuah contoh, bahwa film Denias di putar di Asmat dengan terlebih dahulu didubbing. Jadi orang kampung bisa mengerti film itu dalam bahasa mereka sendiri. Hal ini merupakan cerita yang menarik sekali.
Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa karena modal untuk pengadaan film-film rohani cukup tinggi. Ia juga berkomentar bahwa ia lebih suka membaca buku-buku terbitan Metanoia dibandingkan BPK Gunung Mulia.
Saya mengerti maksudnya. Lalu saya jawab, buku-buku BPK Gunung Mulia cukup mendalam pembahasannya sehingga banyak dibaca oleh kalangan mahasiswa teologia, sedangkan buku terbitan Metanoia lebih banyak menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan umat sehari-hari sehingga nampak lebih praktis. Menurut saya kedua penerbit tersebut telah memberikan kontribusi yang baik sekali bagi pengembangan keimanan umat Kristiani. Sayang sekali, saya lupa nama si arsitek itu. by Charles Roring
Travel across the archipelago of Indonesia, explore its nature, study its wealth of biodiversity and enjoy its natural beauty
Translate
Wednesday, February 27, 2008
Orang Kampung Lebih Tertarik Multimedia
Monday, February 25, 2008
Anak-anak Cuci Mobil
Di depan toko buku yang saya kelola, ada usaha cuci mobil yang dijalankan oleh kakak saya, Stevi. Anak-anak yang bekerja sebagai pencuci mobil ini kebanyakan putus sekolah. Mereka, di usia yang masih muda antara 10 hingga di bawah 20 tahun, sejak pagi sudah bekerja mencari uang dengan jalan mencuci mobil-mobil yang datang untuk menggunakan jasa mereka.
Penghasilan mereka cukup banyak. Bila dihitung per bulan, jumlahnya bisa mencapai satu juta rupiah. Sayang sekali mereka tidak bijaksana menggunakan uang mereka. Setelah mencuci, mereka biasanya membeli kue, rokok dan air atau soft drinks. Kadang-kadang bila mereka tidak bekerja, mereka membeli minuman berakohol yang dijual diam-diam oleh pedagang minuman. Mabuk-mabukkan adalah sebuah relaksasi bagi mereka. Pemerintah kabupaten Manokwari telah memberlakukan sebuah peraturan daerah tentang pelarangan minuman beralkohol. Patut disayangkan bahwa masih ada saja orang yang menjualnya.
Anak-anak muda ini memerlukan perhatian dari siapa saja yang peduli untuk membina mereka. Keluarga saya, dengan segala keterbatasan yang ada pada kami, telah berusaha sedapat mungkin membantu pemberdayaan mereka. Cuci mobil yang kami miliki sudah menyerap tenaga kerja lokal, toko buku yang saya kelola juga sudah menyediakan sebuah ruang baca khusus (a reading corner) yang saya taruh sejumlah buku ilmu pengetahuan yang bisa dibaca gratis oleh siapa saja. Saya juga menyelenggarakan kursus bahasa Inggris gratis yang telah diselenggarakan dari bulan juli hingga november 2007. Awal bulan desember 2007 yang lalu, bekerja sama dengan kawan saya di Yayasan Kaumi, kami menyelenggarakan pelatihan pembuatan barang kerajinan tangan khas Papua bagi muda-mudi di kompleks Missi. Adik saya yang paling bungsu, Ivana juga aktif di kegiatan muda-mudi katolik di kota ini.
Masih banyak kegiatan yang diperlukan untuk memberdayakan orang-orang Papua agar mereka bisa mandiri.
Tapi hanya orang Papua sendiri yang bisa mengubah nasib mereka dari keterpurukan, dari ketertinggalan.
Jalan terbaik untuk melakukan transformasi di tanah Papua adalah lewat pendidikan. by Charles Roring
Penghasilan mereka cukup banyak. Bila dihitung per bulan, jumlahnya bisa mencapai satu juta rupiah. Sayang sekali mereka tidak bijaksana menggunakan uang mereka. Setelah mencuci, mereka biasanya membeli kue, rokok dan air atau soft drinks. Kadang-kadang bila mereka tidak bekerja, mereka membeli minuman berakohol yang dijual diam-diam oleh pedagang minuman. Mabuk-mabukkan adalah sebuah relaksasi bagi mereka. Pemerintah kabupaten Manokwari telah memberlakukan sebuah peraturan daerah tentang pelarangan minuman beralkohol. Patut disayangkan bahwa masih ada saja orang yang menjualnya.
Anak-anak muda ini memerlukan perhatian dari siapa saja yang peduli untuk membina mereka. Keluarga saya, dengan segala keterbatasan yang ada pada kami, telah berusaha sedapat mungkin membantu pemberdayaan mereka. Cuci mobil yang kami miliki sudah menyerap tenaga kerja lokal, toko buku yang saya kelola juga sudah menyediakan sebuah ruang baca khusus (a reading corner) yang saya taruh sejumlah buku ilmu pengetahuan yang bisa dibaca gratis oleh siapa saja. Saya juga menyelenggarakan kursus bahasa Inggris gratis yang telah diselenggarakan dari bulan juli hingga november 2007. Awal bulan desember 2007 yang lalu, bekerja sama dengan kawan saya di Yayasan Kaumi, kami menyelenggarakan pelatihan pembuatan barang kerajinan tangan khas Papua bagi muda-mudi di kompleks Missi. Adik saya yang paling bungsu, Ivana juga aktif di kegiatan muda-mudi katolik di kota ini.
Masih banyak kegiatan yang diperlukan untuk memberdayakan orang-orang Papua agar mereka bisa mandiri.
Tapi hanya orang Papua sendiri yang bisa mengubah nasib mereka dari keterpurukan, dari ketertinggalan.
Jalan terbaik untuk melakukan transformasi di tanah Papua adalah lewat pendidikan. by Charles Roring
Saturday, February 23, 2008
Sapi Bali Beranak Sapi Perah
Kawan saya, Harry Fatem, seorang dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) bertemu dengan saya di suatu sore tanggal 20 Februari 2008. Ia baru saja kembali dari Jakarta setelah menghadiri pertemuan CIVAS (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies) di hotel Grand Hyatt guna membahas masalah flu burung.
Sore itu, sambil duduk di atas motor dinasnya, ia terlihat marah-marah di hpnya. Saya datang dari belakang dan mengagetkannya. Ia terdengar sedang mengomeli saudara-saudaranya di kampung yang meminta uang untuk membeli daging babi dari kota buat acara peresmian gedung gereja. Ya, memang tidak masuk akal. Sebenarnya orang-orang kampung itu diberi saja sedikit uang rokok untuk pergi berburu babi di hutan. Tapi itu bukan cerita utama saya hari ini.
Kami pun masuk ke ruang baca di toko buku saya, setelah ngomong sana – sini akhirnya kita sampai pada topik dunia usaha.
Menurutnya, ia baru saja mendapat restu dari pemda Sorong mengenai proyek pengembangan ternak sapi perah. Satu ekor sapi perah dewasa mungkin harganya bisa mencapai 15 juta rupiah. Tapi dengan teknologi tranfer embrio maka biayanya bisa ditekan. Rencana awal, jumlah embrio yang akan dibeli adalah 30 ekor. Kalau satu ekor dihargai 3 juta maksimum maka ongkosnya mencapai 90 juta. Kalau induk yang dipilih adalah sapi pedaging dengan harga per ekor 3 juta maka perlu 90 juta lagi. Hitung-hitung jumlahnya 180 juta. Tapi induk itu di kemudian hari bisa dipotong atau diternakkan lagi.
Kalkulasi di atas kerta memang lebih murah transfer embrio. Hanya saja, transfer embrio memerlukan keahlian khusus dan kawan saya drh. Harry Fatem menjamin bahwa ia bisa melaksanakan hal tersebut. Ia memang memiliki keahlian itu. Semasa kuliah dulu, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan peternakan sapi perah dengan jumlah ternak mencapai beberapa ratus ekor. Tidak heran, jika apa yang ia kemukakan ini adalah hal biasa baginya sedangkan bagi peternak pada umumnya, hal tersebut cukup rumit.
Ya, semoga saja impiannya itu bisa menjadi kenyataan supaya di tanah Papua ini orang-orang untuk pertama kalinya bisa melihat Sapi Bali (pedaging) beranak Sapi Perah. Itulah bio teknologi. Aneh tapi nyata. He... he... he... by Charles Roring
Sore itu, sambil duduk di atas motor dinasnya, ia terlihat marah-marah di hpnya. Saya datang dari belakang dan mengagetkannya. Ia terdengar sedang mengomeli saudara-saudaranya di kampung yang meminta uang untuk membeli daging babi dari kota buat acara peresmian gedung gereja. Ya, memang tidak masuk akal. Sebenarnya orang-orang kampung itu diberi saja sedikit uang rokok untuk pergi berburu babi di hutan. Tapi itu bukan cerita utama saya hari ini.
Kami pun masuk ke ruang baca di toko buku saya, setelah ngomong sana – sini akhirnya kita sampai pada topik dunia usaha.
Menurutnya, ia baru saja mendapat restu dari pemda Sorong mengenai proyek pengembangan ternak sapi perah. Satu ekor sapi perah dewasa mungkin harganya bisa mencapai 15 juta rupiah. Tapi dengan teknologi tranfer embrio maka biayanya bisa ditekan. Rencana awal, jumlah embrio yang akan dibeli adalah 30 ekor. Kalau satu ekor dihargai 3 juta maksimum maka ongkosnya mencapai 90 juta. Kalau induk yang dipilih adalah sapi pedaging dengan harga per ekor 3 juta maka perlu 90 juta lagi. Hitung-hitung jumlahnya 180 juta. Tapi induk itu di kemudian hari bisa dipotong atau diternakkan lagi.
Kalkulasi di atas kerta memang lebih murah transfer embrio. Hanya saja, transfer embrio memerlukan keahlian khusus dan kawan saya drh. Harry Fatem menjamin bahwa ia bisa melaksanakan hal tersebut. Ia memang memiliki keahlian itu. Semasa kuliah dulu, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan peternakan sapi perah dengan jumlah ternak mencapai beberapa ratus ekor. Tidak heran, jika apa yang ia kemukakan ini adalah hal biasa baginya sedangkan bagi peternak pada umumnya, hal tersebut cukup rumit.
Ya, semoga saja impiannya itu bisa menjadi kenyataan supaya di tanah Papua ini orang-orang untuk pertama kalinya bisa melihat Sapi Bali (pedaging) beranak Sapi Perah. Itulah bio teknologi. Aneh tapi nyata. He... he... he... by Charles Roring
Subscribe to:
Posts (Atom)